Cantik dan Ganteng sebagai Kapitalisme Visual: Dekonstruksi Bias Penampilan di Ruang Publik
DOI:
https://doi.org/10.54154/dekonstruksi.v12i04.410Keywords:
kapitalisme visual, bias penampilan, representasi tubuh, ruang publik, kekuasaan simbolikAbstract
Konsep “cantik” dan “ganteng” dalam masyarakat kontemporer tidak lagi sekadar kategori estetis individual, melainkan telah bertransformasi menjadi instrumen kapitalisme visual yang bekerja melalui representasi media, industri kreatif, dan ruang publik. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana standar penampilan fisik diproduksi, direproduksi, dan dilegitimasi sebagai bentuk kapital simbolik yang memengaruhi relasi sosial, peluang ekonomi, serta konstruksi identitas. Dengan pendekatan kualitatif-kritis dan kerangka teori budaya visual, penelitian ini mendekonstruksi bias penampilan (appearance bias) yang beroperasi secara laten melalui iklan, media sosial, industri hiburan, dan praktik desain komunikasi visual. Hasil kajian menunjukkan bahwa kategori “cantik” dan “ganteng” tidak bersifat alamiah, melainkan dibentuk oleh mekanisme visual yang menstandarkan tubuh, wajah, warna kulit, dan ekspresi tertentu sebagai norma dominan. Standar tersebut kemudian berfungsi sebagai modal yang dapat dikonversi menjadi keuntungan sosial dan ekonomi, sekaligus menciptakan eksklusi (pengucilan) terhadap tubuh dan penampilan yang berada di luar norma visual arus utama. Artikel ini berargumen bahwa bias penampilan merupakan bentuk kekuasaan visual yang perlu dikritisi secara epistemologis dan etis, terutama dalam konteks produksi visual di ruang publik. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan wacana kritis mengenai keadilan visual, etika representasi, dan peran desainer dalam merespons hegemoni kapitalisme visual.








