Suhato Salaputa Negeri Hatu Sebagai Arsitektur Etika Ling-kungan Berbasis Relasionalitas
DOI:
https://doi.org/10.54154/dekonstruksi.v12i04.423Keywords:
Suhato Salaputa, Baileo, etika lingkungan, relasionalias, kearifan lokal, masyarakat adatAbstract
Penelitian ini mengkaji Suhato Salaputa — Baileo Negeri Hatu sebagai representasi etika lingkungan berbasis kearifan lokal Maluku di tengah ancaman krisis ekologis dan degradasi tanah adat. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi nilai-nilai ekologis dalam arsitektur, simbolisme, dan praktik sosial Baileo, serta merumuskan relevansinya bagi tantangan kontemporer. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan data dari observasi lapangan, wawancara mendalam dengan tokoh adat, dan studi pustaka. Analisis dilakukan menggunakan perspektif produksi ruang Henri Lefebvre, topofilia Yi-Fu Tuan, dan harmoni relasional Gottfried Wilhelm Leibniz. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Baileo merupakan ruang relasional yang menghubungkan manusia, komunitas, leluhur, dan alam dalam satu kesatuan kosmologis. Nilai-nilai gotong royong, resiprositas, penghormatan terhadap alam, dan tanggung jawab kolektif membentuk model etika lingkungan yang melampaui antroposentrisme. Penambahan tiang Telulutih dan praktik pertukangan tradisional menunjukkan Baileo sebagai ruang terbuka terhadap perubahan tanpa kehilangan prinsip relasionalitasnya. Di tengah ancaman alih fungsi tanah adat, praktik bore, dan krisis kesakralan ruang di Maluku Tengah, khususnya Negeri Hatu, temuan ini menawarkan kontribusi bagi etika lingkungan kontemporer berbasis kearifan lokal. Baileo adalah kaka dan ari-ari yang tidak bisa ditinggalkan — menjaganya berarti menjaga identitas dan relasi dengan alam.








