Kritik terhadap Bias Antropologis-Etnosentris dalam Bahasa
Sebuah Tinjauan Filosofis Berbasis A-propriasi
DOI:
https://doi.org/10.54154/dekonstruksi.v12i04.442Keywords:
a-propriasi, Antropologi Struktural, Dekonstruksi, Logosentrisme, Dunia-Hidup (Lebenswelt), kesadaran bertubuhAbstract
Kajian bahasa dalam antropologi kerap terjebak dalam paradigma logosentrisme strukturalisme klasik Claude Lévi-Strauss yang memaksakan hierarki biner dan bias etnosentrisme. Meskipun kritik dekonstruksi Jacques Derrida berhasil membongkar kekakuan tersebut dengan menyingkap ilusi “pusat” pemaknaan, pendekatan ini justru memicu kelumpuhan epistemologis melalui penundaan makna tiada akhir (différance) yang mengisolasi diskursus manusia dari realitas material. Merespons kebuntuan filosofis tersebut, penelitian ini bertujuan menguji kembali batas-batas linguistik dan mengajukan metode a-propriasi untuk melampaui formalisme strukturalisme sekaligus skeptisisme dekonstruksi. Dengan berdialog bersama hermeneutika Paul Ricoeur, teori poskolonial Gayatri Spivak, dan kritik marxisme Fredric Jameson, penelitian ini menyingkap bahwa a-propriasi menolak reduksi bahasa menjadi struktur statis maupun permainan tanda steril—yakni kondisi diskursus yang hampa, mandul secara generatif, serta terisolasi dari pengalaman eksistensial dan realitas material. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa merupakan artikulasi dinamis yang secara kokoh terjangkar pada dunia-hidup (Lebenswelt) melalui perjumpaan intensional dan kesadaran bertubuh. Melalui metode a-propriasi, kedaulatan kognitif manusia dipulihkan sebagai tindakan eksistensial emansipatoris yang membuka ruang bagi hadirnya kebenaran-kebenaran alternatif (the-other-truth) yang terbebas dari hegemoni budaya tunggal.








