Toxic Self-Improvement dan Reduksi Manusia menjadi Animal Laborans

Authors

  • Rafael Aglis Ariya Tamtama Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana, Malang
  • Pius Pandor Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana

DOI:

https://doi.org/10.54154/dekonstruksi.v12i3.415

Keywords:

Toxic Self-Improvement, Hannah Arendt, Vita Activa, Animal Laborans, Kapitalisme Digital, Hustle Culture

Abstract

Perkembangan masyarakat modern dan kapitalisme digital telah mengubah makna self-improvement. Jika sebelumnya pengembangan diri bertujuan untuk membantu manusia berkembang secara pribadi dan memperkaya kehidupan batin, kini pengembangan diri sering berubah menjadi tuntutan untuk terus produktif dan meningkatkan nilai ekonomi diri. Fenomena ini dikenal sebagai toxic self-improvement, yaitu kondisi ketika seseorang merasa harus terus bekerja, berkembang, dan mencapai standar tertentu tanpa henti hingga menimbulkan tekanan mental. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena tersebut menggunakan perspektif pemikiran Hannah Arendt, khususnya konsep Vita Activa. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan pendekatan kualitatif yang bersifat filosofis-analitis. Data diperoleh dari buku The Human Condition karya Hannah Arendt serta berbagai jurnal dan literatur pendukung yang membahas toxic self-improvement, hustle culture, burnout, dan kapitalisme digital. Data dianalisis menggunakan metode deskriptif-analitis dan analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya toxic self-improvement membuat manusia semakin terjebak dalam tuntutan kerja dan produktivitas tanpa akhir. Kehidupan pribadi dan pekerjaan menjadi sulit dipisahkan, sehingga memicu kelelahan mental atau burnout dan membuat manusia kehilangan ruang untuk beristirahat serta berefleksi. Dalam perspektif Arendt, kondisi ini menunjukkan dominasi animal laborans, yaitu manusia yang hidupnya sepenuhnya dikuasai oleh aktivitas kerja dan kebutuhan ekonomi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa budaya produktivitas modern menyebabkan manusia kehilangan kebebasan, ruang refleksi, dan hubungan sosial yang bermakna. Manusia akhirnya lebih sibuk mengejar produktivitas dan pengakuan sosial daripada membangun kehidupan yang otentik dan manusiawi.

Downloads

Published

2026-06-25

How to Cite

Tamtama, R. A. A., & Pandor, P. (2026). Toxic Self-Improvement dan Reduksi Manusia menjadi Animal Laborans. Dekonstruksi, 12(3), 107–119. https://doi.org/10.54154/dekonstruksi.v12i3.415

Similar Articles

1 2 3 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.